Contents
Pemerintah Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan (Sulsel) baru-baru ini telah menyiapkan lahan seluas 10 hektar. Hal ini guna memfasilitasi calon investor yang tertarik melakukan pengembangan kawasan budidaya sapi potong di wilayah tersebut.
Lahan tersebut secara resmi dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Bone dan terletak di Desa Lampoko, Kecamatan Barebbo.
Pembagian Lokasi Budidaya Sapi Potong

Andi Musafir selaku Kepala DPKH Kabupaten Bone, menyatakan bahwa di lokasi tersebut telah dibangun dua kandang eksisting. Yang pertama untuk penggemukan sapi, 1 pabrik pakan ternak, 1 gudang, 1 kantor, dan 1 pusat kesehatan hewan.
Selanjutnya, melalui investasi sebesar Rp. 36,37 miliar, rencananya pembangunan budidaya sapi potong akan mengalami perluasan dengan pendirian Rumah Pemotongan Hewan (RPH), cold storage, tempat penyimpanan bahan baku pakan, serta pembangunan sembilan sumur bor.
Andi menjelaskan bahwa jika ada investor yang ingin berinvestasi namun lahan yang ada dirasa masih kurang. Pemerintah memiliki opsi untuk memperluas lahan tersebut. Bahkan menurut Andi, lahan tersebut masih dapat bertambah hingga 25 hektar.
Dia juga menambahkan bahwa model peternakan ini adalah peternakan rakyat, dengan potensi pengembangan melalui kemitraan dengan masyarakat atau peternak tradisional di Desa Lampoko.
Budidaya Sapi Potong Berasal Dari Masyarakat

Pengelola akan membeli dan sapi dari masyarakat. Sapi ini akan mendapatkan fasilitas penggemukan di area pengembangan ini. Setelah itu, pengelola akan melakukan proses pemotongan sapi-sapi tersebut.
Hasil pemotongan daging akan melalui proses pembekuan untuk dijual dengan target pemotongan antara 80 hingga 100 ekor per bulan.
Dalam perencanaan, nantinya lokasi budidaya ini akan menghasilkan produk berupa daging beku. Namun, Musafir tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada pengembangan produk olahan sapi di lokasi lebih lanjut seperti menjadi daging kemasan.
Ia juga menambahkan bahwa sejauh ini sudah ada calon investor yang tertarik dengan pengembangan ini. Pihaknya telah melakukan presentasi mengenai program ini kepada calon investor dari Belgia.
Meskipun prosesnya masih dalam tahap negosiasi, mereka telah menjadwalkan kunjungan ke lokasi tersebut.
Investor Akan Datang Pada Agustus Tahun Ini

Calon investor berencana akan mengadakan kunjungan ke Bone pada bulan Agustus tahun ini. Dalam kunjungan tersebut, para investor berkeinginan untuk melihat dan mengawasi kemajuan dalam penerapan inseminasi buatan dan teknologi reproduksi.
Andi juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah mengenali peluang ini dan telah melakukan perbaikan infrastruktur, terutama jalan menuju lokasi tersebut. Potensi penjualan sapi dari wilayah ini sangat menjanjikan, karena pasar telah meluas hingga di luar provinsi.
Andi Amiruddin, seorang peternak di Desa Lampoko, menyatakan bahwa dalam sebulan ia dapat menjual 26 ekor sapi ke berbagai wilayah. Penjualan tersebut terutama untuk Kalimantan Selatan.
Amiruddin juga menekankan bahwa beberapa jenis sapi, seperti limosin, simental, angus, dan bali, menjadi primadona bagi pembeli di Kalimantan.
Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen penduduk desanya memiliki sapi yang siap untuk menjual sapinya. Bagi masyarakat disana mereka wajib untuk memiliki sapi sebagai ternak utama ketimbang dengan ternak lainnya.
Umumnya, mereka membeli sapi-sapi dari luar daerah, seperti Sinjai dan Gowa, kemudian merawatnya sebelum menjual sapinya kembali.
Kerjasama Pemerintah dan Bank Indonesia

Guna mencapai tujuan budidaya sapi potong diatas, baik Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Pemerintah Kabupaten Bone, serta Bank Indonesia terus melakukan upaya kerja sama.
Dengan kerjasama yang terjalin, masyarakat berharap untuk mendorong pembentukan kawasan industri sektor peternakan di Sulsel.
Mereka berupaya menarik investor untuk membangun pusat budidaya sapi potong yang terintegrasi dengan pengembangan produk olahan sapi. Anggaran untuk proyek ini masih dalam pencarian melalui skema investasi dengan estimasi total sebesar Rp 36,37 miliar.
Potensi sumber daya peternakan khususnya sapi potong di Sulsel sudah cukup baik dan mampu berkembang ke arah produksi olahan. Hal ini menjadi bagian dari komitmen hilirisasi dan pembangunan kawasan budi daya sapi potong ini.
Kedepannya, masyarakat tidak akan menjual sapi-sapi di Sulsel sebagai hewan hidup seperti sebelumnya, tetapi juga akan dijual dalam bentuk produk turunannya. Baik dalam bentuk daging beku maupun daging kemasan.
Kabupaten Bone Penghasil Sapi Yang Tinggi

Tentu ada alasan mengapa Kabupaten Bone menjadi pilihan sebagai pusat budidaya sapi. Bone memiliki banyak populasi sapi potong dengan kualitas yang terjaga. Selain itu, komitmen pemerintah daerah dalam menyediakan fasilitas bagi calon pengembang juga dinilai sangat maksimal.
Mengambil data dari Badan Pusat Statistik (BPS), populasi sapi potong secara keseluruhan di Sulawesi Selatan (Sulsel) mencapai 1,48 juta ekor pada tahun 2022 lalu.
Data tersebut menjadi bukti kika Sulsel merupakan provinsi dengan populasi sapi potong terbesar ketiga di Indonesia, setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Dari data tersebut juga menjelaskan jika lebih dari 30 persen atau sekitar 450.000 ekor sapi potong di Sulawesi Selatan ada di Bone.
Masyarakat Dekat Dengan Sektor Peternakan

Bupati Bone, Fahsar M Padjalangi, menyatakan bahwa wilayahnya telah lama terkenal sebagai salah satu daerah dengan populasi sapi terbesar di Indonesia. Keahlian masyarakat dan keterlibatan mereka dalam sektor peternakan akan mendukung program ini.
Menurut Fahsar, Bone memiliki potensi peternakan yang sangat besar, terutama dalam hal sapi. Hampir semua masyarakat di sini memiliki sapi, sehingga tenaga kerja di wilayah ini sangat terampil dalam bidang peternakan.
Selain terkenal sebagai wilayah dengan populasi sapi yang besar, Kabupaten Bone juga menjadi pemasok utama kebutuhan sapi di beberapa wilayah sekitar, seperti provinsi-provinsi di Sulawesi dan Kalimantan.
Wilayah-wilayah Indonesia bagian timur, seperti Maluku dan Papua, juga sering mengandalkan pasokan dari Bone.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menambahkan bahwa pemerintah siap memberikan kemudahan kepada calon investor yang ingin berinvestasi di lokasi budidaya sapi potong ini dengan jaminan berbagai regulasi.
Pemerintah Provinsi Sulsel telah menegaskan dirinya sebagai daerah yang ramah investasi, yang tercermin dalam serangkaian peraturan dan regulasi yang mendukung percepatan investasi.
Dengan keunggulan kompetitif dan kemudahan regulasi ini, pemerintah berharap adanya antusiasme dari para calon investor untuk berinvestasi di Bone dalam pengembangan sapi potong.
Andi juga yakin bahwa potensi di Bone sangat besar, karena wilayah ini merupakan salah satu pemasok sapi terbesar ke beberapa daerah.
Perlu Dorongan Budidaya Sapi Potong

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulsel, Causa Iman Karana, menyebut beberapa alasan mengapa pengembangan budidaya sapi potong perlu mendapatkan dorongan.
Alasan kuat yang menjadi poin penting adalah praktek pengembangan bisnis ternak di Kabupaten Bone masih cenderung konvensional.
Banyak pihak yang belum memanfaatkan potensi penjualan produk olahan ternak. Padahal, dengan menjual produk olahan, potensi keuntungan bisa lebih tinggi daripada hanya menjual ternak hidup.
Selain itu, pasokan daging saat untuk memenuhi kebutuhan daging di Indonesia belum bisa tercukupi. Oleh karena itu ini menjadi peluang besar untuk pengembangan industri ini.
Hal ini juga memiliki dukungan dari potensi alam di Bone dan populasi sapi yang belum melalui pengelolaan secara optimal.
Andi menambahkan bahwa di Indonesia, khususnya di Sulsel, masih kurangnya pemasaran hasil ternak dalam bentuk daging beku, pupuk organik, padat cair, dan produk lainnya. Ia menyatakan perlunya segera merealisasikan peluang ini agar ada minat dari para investor untuk menanamkan modal.

Seorang tenaga pengajar di Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau dengan bidang keahlian Ilmu Tanah dan Kesuburan Tanah. Semoga artikel yang dibuat bermanfaat.


